Hizbut Tahrir Indonesia

Saturday, January 5, 2013

CINTA BUNDA

Bunda kau tertidur lelap Rupanya...

Matamu tertutup rapat..
Mulutmupun tertutup rapat..
Dan badan mu terkulai lelap..

Kulihat kelelahan dalam lelap tidurmu Bun...

Diam-diam kupegang tanganmu,inikah tangan yg senantiasa mengangkat tubuh mungilku waktu dulu Bun?..

Diam-diam ku kecup pipimu, inilah yg selalu kau lakukan ketika ku menangis ya Bun?..

Diam-diam kupijat kakimu, inikah kaki yg selalu kuat menopang ketika kau menimangku dulu Bun?..

Diam-diam ku dekatkan telingaku ke dadamu, inikah detak jantung yg selalu berdebar kencang ketika aku sakit Bun?..

Diam-diam kusandarkan diri pd tubuhmu dan ada yg lupa dari pertanyaanku pd mu Bun..Tentang Rahim..Iya aku ingat bahwa rahim mu yg telah melindungiku selama 9 bulan..Lelahkah Bun, sakitkah bun ?..

"Allahuakbar...Sungguh seluruh raga dan jiwa mu telah kau korbankan untuk AKU anak mu"

-ya Allah, Ampunilah aku dan kedua Orangtuaku dan kasihanilah keduanya sbagaimana mereka mengasihani aku pada waktu kecil-


cinta dan sayang untk Bunda dari anakmu

CINTA AYAH

"Ayah"

Ayah kau pulang Rupanya...

Ceria ku sambut kedatanganmu...

Belum kering keringat dalam ragamu, kau teguk air syurga ibunda...

Belum hilang lelah dalam ragamu, kau peluk adinda...

Yah..Murung wajahmu ku tahu itu pikirmu untuk masa depanku...

Yah..Lamunan matamu ku tahu itu kekhawatiranmu untuk ceria hidupku...

Yah..Senyuman bibirmu ku tahu itu kebahagiaan untuk kelengkapan hidupku...

Yah..Sakitnya ragamu ku tahu itu untuk masa depanku, untk ceriaku dan untuk kelengkapan hidupku...

Dan Ayah kumohon bertahanlah untukku nanti di gerbang perWalian hidupku karena itu adalah gerbang pengistirahatan ragamu dan kegelisahanmu...

"Allahuakbar...Jiwa dan raga kau pertaruhkan untuk Aku anakmu"

-ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihani aku pada waktu kecil-

cinta dan sayang dari anakmu

Membentuk Kepribadian Islami Anak

Oleh: Ratu Erma R
Pembentukan kepribadian anak yang benar haruslah dilakukan dengan pembinaan keimanan (akidah), pembinaan dan pembiasaan ibadah, pendidikan perilaku (akhlak), pembentukan jiwa, pembentukan intelektualitas serta pembinaan interaksi sosial kemasyarakatan. Masing-masing mempunyai cara praktis yang harus dilaksanakan.
1.     Pembinaan keimanan. 
Pembinaan keimanan bisa dilakukan dengan cara: mengajarkan keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat dan menyertai manusia dimanapun ia berada; menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw. serta menjadikan Rasulullah, keluarga dan para Sahabatnya sebagai contoh; menyibukkan anak dengan membaca al-Quran dan as-Sunnah sekaligusmembahas maknanya; membina keteguhan mereka dalam mempertahankan keyakinan dan siap berkorban untuk hal tersebut.
Pada masa pertumbuhan anak, merupakan karunia Allah bahwa hati manusia akan Allah lapangkan untuk dapat menerima keimanan tanpa harus mengungkapkan argumentasi. Hal ini karena setiap anak yang lahir membawa nilai fitrah dan keimanan (QS al-A’raf [7]: 172).  Lihatlah, bagaimana Rasulullah saw. menjadikan Ali bin Abi Thalib ra., anak yang belum genap sepuluh tahun usianya, menjadi anak yang pertama memeluk Islam, mengenal Allah, mempelajari aturan-Nya serta membela agama Allah dan Rasul-Nya.
Rasul saw. pernah berwasiat kepada Muadz ra.:
وَانْفِقْ عَلَى عِياَلِكَ مِنْ طَوْلِكَ، وَلاَ عَنْهُمْ عَصَاكَ أَدَبًا، وَأَخْفَهُمْ فِي اللهِ
Nafkahilah keluargamu sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki. Janganlah kamumengangkat tongkatmu di hadapan mereka serta tanamkanlah pada mereka rasa takut kepada Allah (HR Ahmad, Ibnu Majah dan al-Bukhari).

Rasa takut kepada Allah SWT akan menghindarkan anak dari segala perbuatan buruk.  Larangan Allah untuk mencela merugikan, melukai atau membunuh orang lain akan dipatuhi oleh anak yang punya rasa takut kepada Allah SWT.  Begitupun makanan dan benda yang diharamkan Allah, akan mereka jauhi.
2. Pembinaan ibadah.
Pembinaan ibadah merupakan penyempurnaan dari pembinaan akidah, dan menjadi cerminan keyakinan.  Dr. Said Ramadhan al-Buthi mengatakan, “Agar akidah anak tertanam kuat dalam jiwanya, ia harus disirami dengan air ibadah dengan segala ragam dan bentuknya. Dengan begitu akidahnya akan tumbuh kokoh dan tegar dalam menghadapi terpaan badai dan cobaan kehidupan.”
Rasulullah saw. memberikan busyra (kabar gembira) dengan sabdanya, “Tidaklah seorang anak tumbuh dalam ibadah sampai ajal menjemput dirinya, melainkan Allah akan memberidia pahala setara dengan 99 pahala shiddiq (orang-orang yang benar dan jujur).”
Pembinaan ibadah dilakukan dengan mendorong pelaksanaan shalat wajib, ditambah dengan melakukan shalat sunnah, selain mengajak mereka menghadiri shalat berjamaah di masjid.  Ibadah shalat akan mencegah anak dari perbuatan keji dan mungkar (QS al-‘Ankabut []: 45). Mereka juga harus dibiasakan melakukan shaum sunnah karena shaum akan menguatkan daya kontrol anak terhadap segala keinginan.  Mereka akan terbiasa sabar dan tabah.  Demikian dengan amalan ibadah lainnya yang harus dibiasakan untuk dilaksanakan oleh anak-anak agar mereka mempunyai keterikatan dengan hukum-hukum Allah SWT.
3.    Pendidikan akhlak.
Akhlak adalah perangai yang dibentuk.  Karena itu anak memerlukan pendidikan akhlak agar aktivitas sosial mereka terhindar dari penyimpangan serta kesalahan.  Anak sangat memerlukan pihak yang memperhatikan perilakunya.  Mereka tumbuh sesuai dengan pembiasaan yang dilakukan oleh orangtuanya.  Perangai buruk seperti menyendiri, emosional, ceroboh, temperamental, serakah dan sebagainya adalah bentukan pendidik.  Begitupun perangai yang baik semisal sopan, peduli, dermawan, bijak, jujur dan sebagainya adalah bentukan pendidik.  Oleh karena itu, jika pendidikan akhlak tidak diberi perhatian serius, perangai buruk akan menjadi masalah sebagaimana yang terjadi pada remaja dewasa ini.
Dalam pendidikan akhlak, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Adab (baik saat bergaul dan berinteraksi) adalah prioritas dalam pendidikan akhlak.  Dari adab yang baik akan lahir kebiasaan baik dan perilaku terpuji yang melahirkan amal salih. Adab yang buruk akan merusak pola pikir yang melahirkan kebiasaan buruk, membentuk perilaku hina dan rendah serta melahirkan amal-amal buruk lainnya.
Dalam hal ini, orangtua adalah contoh pertama, karena mereka adalah pendidik pertama.  Ajaklah anak untuk mendatangi ulama dan belajar dari mereka adab dan menjalankan nasihat mereka. Beberapa adab yang wajib diajarkan kepada anak adalah adab terhadap orangtua, bagaimana cara memanggil mereka dan memandang orangtua; adab terhadap orang yang berilmu, terhadap orang yang lebih tua; adab berinteraksi dengan sesama Muslim; adab dengan tetangga, meminta izin dalam berbagai hal (izin memasuki rumah orang, izin penggunaan hak milik orang, dan sebagainya); adab dalam berpenampilan; dan sebagainya.
Termasuk perilaku mendasar yang harus dibentuk pada anak adalah sikap amanah.  Setiap anak harus memiliki sikap amanah. Rasulullah saw. telah menegaskan tanggung jawab seorang anak atas amanah yang dia pikul. Rasulullah saw. tidak segan-segan untuk memberi sanksi kepada anak yang mengkhianati amanah dengan menjewer telinga anak tersebut.  Imam an-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Adzkar: Kami meriwayatkan dalam kitab Ibnu Sinni dari Abdullah bin Bisir ash-Shahabi ra. Yang berkata: “Ibuku pernah menyuruh aku menemui Rasulullah saw. dengan membawa setandan anggur. Namun, aku memakan sebagian anggur itu sebelum menyampaikannya kepada Rasulullah saw.  Tatkala aku sampai di hadapan Rasulullah saw., beliau menjewer telingaku sambil berkata, Wahai yang mengkhianati janji.’”
Begitupula tentang akhlak menjaga rahasia orang lain, menjaga kedengkian dan iri hati, serta jujur adalah sikap dasar yang harus dibentuk pada anak.
 4.    Pembentukan jiwa.
Pembentukan jiwa dilakukan dengan cara memberikan perhatian dan kasih sayang dalam bentuk langsung yang terasa secara fisik seperti: ciuman dan belaian; bermain dan bercanda dengan mereka; menyatakan rasa sayang dengan lisan.  Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adab al-Mufrad bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, “Saya mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, Rasulullah saw. memegang dengan kedua tangannya kedua telapak cucunya, Hasan dan Husain. Kedua telapak kaki mereka di atas telapak kaki Rasulullah saw.  Kemudian beliau berkata,Naiklah.’ Lalu keduanya naik hingga kedua kaki mereka berada di atas dada Rasulullah saw.  Kemudian beliau berkata, ‘Bukalah mulutmu.’  Kemudian beliau menciumnya dan berkata, Ya Allah saya mencintainya dan sungguh saya mencintainya.’”
Selain itu, bisa dilakukan dengan cara memberi mereka hadiah, penghargaan dan pujian.  Ini dapat memberi pengaruh besar pada rasa saling berkasih sayang antara orangtua dan anak serta akan membentuk jiwa yang lembut pada mereka. Rasulullah saw. pernah membagi manisan kepada anak-anak yang turut shalat ashar bersama beliau.  Bahkan beliau memberi tambahan bagian kepada mereka.  Cara lain membentuk jiwa anak adalah menyambut mereka dengan penuh kehangatan.  Sambutan penuh hangat akan membuka jiwa mereka dan akan memudahkan mereka untuk mengungkapkan permasalahannya.
Sering menanyakan dan memperhatikan keadaan mereka adalah cara lain membentuk jiwa anak.  Sikap tanggap orangtua punya peran besar dalam mengatasi persoalan mereka.  Suatu hari Ummu Aiman melaporkan bahwa Hasan dan Husain hilang. Rasulullah saw. langsung meminta beberapa Sahabat untuk mencari ke berbagai arah.  Ketika ditemukan, Hasan dan Husain sedang berpelukan ketakutan karena di depan mereka ada ular.  Rasulullah saw. segera mengusir ular tersebut dan mendatangi kedua cucu beliau, melepaskan rangkulan mereka dan mengusap kepala mereka sambil berkata, “Demi ibu dan ayahku, semoga Allah memuliakan kalian.”  Kemudian beliau menggandeng mereka dan berkata, “Sebaik-baik penunggang adalah mereka berdua.  Ini beliau lakukan untuk menghilangkan ketakutan mereka agar jiwanya kembali stabil dan tenang.  Perlakuan yang baik terhadap anak akan memberikan ketenangan kepada mereka, mendekatkan hubungan orangtua dan anak sehingga setiap masalah yang mereka hadapi dapat segera diselesaikan. Anak yang jiwanya dipenuhi perhatian dan kasih sayang akan memperlakukan orang lain dengan kasih sayang pula.
5.    Pembentukan intelektual.

Orangtua harus memotivasi anak agar semangat mencari dan mencintai ilmu.  Menuntut ilmu adalah ibadah utama yang mendekatkan hamba kepada Rabb-nya.  Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat baik untuk membangun keilmuan dan pemikiran mereka.  Orangtua harus membimbing anak memahami hukum-hukum Islam, mencarikan guru yang salih, mendidik anak terampil bahasa Arab dan bahasa asing yang diperlukan, mengarahkan anak sesuai kecenderungan ilmiahnya, menyediakan bahan bacaan di rumah dengan membuat perpustakaan rumah, mengisahkan riwayat orang-orang salih pada generasi lalu serta mendorong anak untuk mencontoh penguasaan keilmuan mereka.
Satu contoh adalah Ibnu Sina.  Menginjak usia 10 tahun, beliau telah memahami al-Quran dan adab dengan baik.  Beliau menguasai dasar-dasar agama, berhitung, ilmu mantik dan yang lainnya.  Ia mempelajari fikih, ilmu pengetahuan alam, tauhid dan lainnya sehingga Allah membukakan bagi dirinya semua pintu ilmu karena kecintaan dan kesungguhannya.  Kemudian ia senang mempelajari ilmu kedokteran sehingga pada masanya beliau dikenal sebagai ulama yang menguasai banyak ilmu dan saat itu usia beliau 16 tahun. Tatkala beliau menemui kebuntuan dalam memahami satu ilmu, beliau berwudhu dan menuju masjid untuk shalat dan berdoa agar Allah membukakan kunci ilmu untuk dirinya.  Beliau mengarang lebih dari 100 buku dan artikel tentang berbagai bidang keilmuan.  Semangat menguasai ilmu pada anak-anak akan mengefektifkan waktu mereka dari kesia-siaan dan aktivitas lain yang tidak berguna.
6.    Pembinaan kemasyarakatan.
Membina anak untuk melakukan interaksi sosial bersama masyarakat menumbuhkan sikap kepedulian dan tanggung jawab terhadap persoalan umat.  Interaksi mereka di tengah masyarakat memerlukan pemahaman yang matang.  Utamanya ketika mereka memasuki usia balig. Laksana orang dewasa, mereka terikat dengan aturan interaksi sosial, yakni hubungan antara laki-laki dan perempuan serta hukum-hukum kemasyarakatan seperti perekonomian, hubungan ketetanggaan, kekerabatan, pertemanan, dan lain sebagainya.  Anak harus memahami jenis pakaian apa yang harus dikenakan untuk keluar rumah, paham batas-batas hubungan antara lawan jenis, paham siapa yang harus dijadikan teman, dan bagaimana ia bersikap terhadap tetangga.  Kepada mereka juga harus dijelaskan tentang peran apa saja yang ditetapkan Islam saat berada di tengah masyarakat.  Pemahaman ini akan membentuk sikap kepedulian (tidak apatis) dan mendorong mereka untuk mengambil peran positif dalam masyarakat.
Ini bisa dilakukan dengan cara mengajak mereka ke majlis pertemuan orang dewasa, menghadiri kajian di masjid, turut dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, mengunjungi tetangga yang sakit, bermalam di rumah sanak saudara yang salih, turut memberikan sedekah kepada fakir miskin, ikut dalam organisasi sosial kemasyarakatan dan sebagainya.  Mereka juga bisa dilibatkan dalam urusan kebutuhan keluarga semisal ditugaskan untuk menagih hutang.  Mereka akan diajarkan untuk menagih hutang dengan cara yang santun.  Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dulu ada orang yang suka memberikan pinjaman kepada orang lain.  Ia berpesan kepada anak laki-lakinya, ‘Jika kamu mendatangi orang yang sedang kesulitan maka maafkanlah ia. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita.  Lalu ia pun meninggal dan Allah memberi dia ampunan.
Hikmahnya adalah ketika anak terdidik untuk membantu keluarga, maka ia akan mempunyai kepekaan baru untuk mengetahui apa saja yang diperlukan keluarganya, sebelum orangtua mereka menjelaskan apa yang mereka perlukan.
Dari sini jelaslah bahwa membentuk pribadi anak yang salih memerlukan keluarga yang memahami ideologi Islam, lingkungan masyarakat yang menganut dan menjalankan syariah Islam, serta negara yang menerapkan sistem pendidikan Islam.  Tanpa semua itu, pembentukan anak salih seutuhnya sulit diwujudkan.
WalLahu a’lam bi ash-shawab.

Partisipasi Perempuan, Seperti Apa?

Motif sesungguhnya, mengapa perempuan dimotivasi agar lebih maksimal berpartisipasi dalam proses ekonomi, yakni menyelamatkan krisis Barat.
Saat ini didengungkan wacana ‘abad partisipasi penuh perempuan’ (full partisipation age). Seperti pernah dilontarkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton tentang vitalnya peran perempuan saat ini bagi kemajuan dunia. Lantas seperti apa sih partisipasi penuh yang diinginkan?
Kepedulian Semu
Di Barat, partisipasi perempuan bisa dibilang sudah full. Hampir tidak ada batasan apapun di sana. Perempuan bebas mengekspresikan diri. Semua sektor sudah dirambah perempuan. Mulai profesi hina seperti wanita panggilan hingga pejabat nomor satu sekelas presiden, bisa dijabat perempuan. Kurang apalagi? Sudah kebablasan malah. Lalu mengapa masih didengungkan abad partisipasi penuh perempuan?
Tak lain, propaganda ini menyasar perempuan di negeri-negeri Muslim. Khususnya negara-negara di dunia ketiga yang masih dianggap malu-malu membebaskan kaum hawa dari belenggu nilai-nilai suci agama Islam. Bahkan, masih ditemukan negara yang sangat rigid (ketat, red) dalam memperlakukan perempuan. Semisal perempuan sama sekali tidak boleh keluar rumah, tidak boleh sekolah, menyetir kendaraan sendiri, dll.
Tentu saja, harapan akan partisipasi penuh perempuan ala sekuler-kapitalis ini, tidak murni atas dasar kasih sayang dan kepeduliannya pada kaum perempuan.  Barat sama sekali tidak tulus memuliakan perempuan serta mengangkat harkat mereka ke derajat semestinya. Sebaliknya, justru ingin mengeluarkan perempuan dari harkat dan martabatnya demi sebuah ambisi tertentu yang berujung pada rusaknya tata nilai kehidupan islami.
Berkaca pada kondisi di Barat, sudah lama kiprah perempuan yang melanggar fitrahnya, justru hanya menghasilkan malapetaka sosial. Seperti tingginya pelecehan dan kekerasan seksual, seks bebas, perceraian, single parent, anak bermasalah, dll. Kondisi inipun sudah mulai menular di negeri-negeri Muslim, meski partisipasi perempuan di ranah publik bisa dibilang belum full. Masalahnya, perempuan yang berkontribusi untuk rumah tangga tidak dianggap berdaya alias dinilai tidak berpartisipasi.
Nah, apa jadinya jika semua Muslimah mengambil peran di ranah publik atas dasar paradigma full partisipation age? Padahal, belum full saja partisipasi perempuan, sudah sedemikian rusak dampaknya. Tak terbayang, bagaimana jika para perempuan benar-benar terlibat penuh dalam segala hal.
Motif Ekonomi
Perhatian pada perempuan untuk meningkatkan perannya saat ini, sarat dengan kepentingan ideologi kapitalis. Ada motif ekonomis, di mana para perempuan diharapkan menjadi penyelamat perekonomian dunia yang saat ini tengah kolaps.
Terutama di Barat, krisis multidimensi hampir tak terperikan. Nah, dunia Islam diharapkan mampu menjadi penyelamatnya. Termasuk Muslimah yang jumlahnya mayoritas di dunia ini, diharapkan memiliki kontribusi besar dalam menyelamatkan keadaan tersebut.
Lantas peran seperti apa yang diharapkan kapitalsime global itu? Pertama, Muslimah didorong sebagai penghasil uang. Perempuan diberdayakan secara fisik, baik dengan bekerja di sektor-sektor industri, jasa, bahkan hiburan. Selain itu, digelontorkan pula modal khusus perempuan agar memiliki usaha rumahan sehingga menjadi perempuan mandiri secara finansial. Dengan kiprah mereka di bidang ekonomi ini, perempuan turut menggelindingkan roda perekonomian.
Kedua, perempuan didorong berperan dalam mengaruskan konsumtifisme. Berkat kemandirian finansial di mana perempuan mampu menghasilkan uang sendiri, maka perempuan tetap memiliki daya beli. Ia pun mampu memenuhi hasrat konsumtifnya. Tingginya tingkat konsumtifisme akan mendorong proses produksi sehingga mampu memutar roda perekonomian. Perempuan pun makin enjoy dan bahagia karena bisa memenuhi kebutuhan konsumtifnya sendiri tanpa harus bergantung pada laki-laki.
Siapa yang diuntungkan? Barat. Bukankah para perempuan (Indonesia) begitu silau dengan produk-produk asing? Pasar bebas meniscayakan banjirnya produk-produk asing dan menggilas produk dalam negeri, bahkan yang dihasilkan kaum perempuan yang capek-capek diberdayakan pemerintah melalui model pemberdayaan ekonomi keluarga itu sendiri.
Itulah motif sesungguhnya, mengapa perempuan dimotivasi agar lebih maksimal berpartisipasi dalam proses ekonomi, yakni menyelamatkan krisis Barat. Mereka didorong menghasilkan uang dan membelanjakan uang itu untuk memanjakan diri, hal yang sangat fitrah disukai kaum perempuan itu sendiri.
Lihat saja bagaimana perilaku para perempuan eksekutif yang berkecukupan materi. Senin sampai Jumat berjibaku dengan waktu, memeras energi habis-habisan. Tiba akhir pekan, mal dan tempat hiburan jadi jujukan untuk menghamburkan uang. Fenomena ini kian melanda para perempuan, tak terkecuali Muslimah.
Peran Membangkitkan 
Berbeda dengan Barat, Islam menempatkan perempuan pada posisi bermartabat. Peran kaum Muslimah ini sudah digariskan dengan jelas. Bahwa perempuan memiliki peran utama di rumah, sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik anak. Karena itu, Islam memberi perhatian lebih pada peran vital perempuan dalam pembentukan keluarga dan pelahir generasi ini.
Misalnya, Islam tidak membebankan masalah finansial pada perempuan, sehingga ia fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak.  Namun, ia berdiri men-support suami guna menguatkan perannya dalam berbagai kiprah. Perannya ini akan menjaga bangunan institusi keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat dan negara.
Tentu saja, Muslimah diwajibkan cerdas dengan terus menuntut ilmu dan mengkaji tsaqofah sebagai bekalnya. Darimana mendapatkan ilmu ini? Jika tak mampu diperoleh di rumah, dibolehkan keluar rumah seperti ke majelis ilmu atau pendidikan formal. Siapa yang mengajarkan? Bisa sesama Muslimah. Karena itu, peran strategis Muslimah di ranah publik juga sebagai daiyah yang berkontribusi dalam mencerdaskan kaumnya.
Peran ini bukan remeh temeh. Ini adalah peran politik dan strategis perempuan dalam pandangan Islam yang memiliki kontribusi sangat besar dalam pembentukan keluarga yang tangguh, generasi terbaik dan masyarakat madani.
Karena itu, semestinya pengarusutamaan peran Muslimah saat ini adalah berupa pencerdasan politik pada perempuan. Ini agar mereka memahami hakikat diri dan berkiprah sesuai fitrahnya. Jangan sampai Muslimah tenggelam dalam arus pemberdayaan ala Barat yang akan menggerus dan selanjutnya menghilangkan identitasnya sebagai Muslimah sejati. (mediaumat.com, 31/10/2012)